Tuesday, November 4, 2014

Mitos Angker Kali Pemali


SIAPA nyana, dibalik tenangnya arus sungai Pemali yang membelah kota bawang ternyata menyimpan kisah misteri yang menjadi mitos di kalangan masyarakat. Walau ada kepercayaan dogmatis teologis, hidup dan mati sudah digariskan oleh Tuhan, sang penguasa alam. Maut akan mendatangi setiap yang bernyawa sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan Tuhan. Tak ada satu mahlukpun yang bisa menahan, apalagi menolaknya. Tidak pula maut itu bisa dipercepat atas kehendak manusia. Hakikatnya, mati tidak bisa diakhirkan atau didahulukan..(Laa yastakhiruun walaa tastaqdimuun. Demikian bunyi sebuah wahyu.


Tapi, bentuk kematian yang datang secara tiba-tiba, disertai dengan serentetan peristiwa kadang kurang bisa diterima banyak kalangan. Seperti halnya meninggal dengan cara tenggelam di sungai Pemali Brebes, ada saja yang mengaitkan dengan mitos mistis. Apalagi, kerap terjadi insiden serupa. Bahkan, konon, setiap tahunnya, mahluk halus penunggu sungai tersebut salalu meminta tumbal sebagaimana kepercayaan sebagian masyarakat sekitar.

Mahluk halus yang disebut-sebut sebagai penghuni sungai Pemali, Lembudana-Lembudini, Buaya Putih dan sebangsanya sudah terlanjur menjadi mitos turun temurun. Warga yang kebetulan meninggal tenggelam di sungai-sungai tersebut, oleh sebagian kalangan dikait-kaitkan dengan keberadaan mahluk imaginer tersebut.

Sebagian warga Desa Dumeling Kecamatan Wanasari yang berada dibantara sungai Pemali, misalnya, sebelum ada kejadian korban tenggelam akan ada isyarat-isyarat mistis tertentu. "Biasanya, warga percaya dan tahu akan ada korban di sungai Pemali. Ada isyarat mistis dari sang penunggu, warga disini menyebut penunggunya Lembudana-Lembudini, yang dipercaya sebagai sepasang mahluk halus di sungai Pemali Dumeling. Sebelum ada kejadian biasanya ada riak-riak air yang aneh, atau penampakan buaya putih. Entah ini menjadi mitos warga sekitar," tutur Zaki Saefrudin (30), warga Dumeling.

Menurut kepercayaan sebagian warga, kata Zaki, Lembudana-Lembudini digambarkan sebagai mahluk halus berwujud ular yang berkepala kerbau. Dia mendiami aliran Pemali Desa Dumeling hingga Desa Kertabesuki, Wanasari. "Selain ada Lembudana-Lembudini, konon di sepanjang Pemali dari Pengempon Brebes juga ada mahluk buaya putih. Kalau kalau yang di Matras (tempat tenggelamnya 3 bocah-red) disebut-sebut sebagai pasar gaib tempat transaksi dan kumpulnya para jin dan mahluk halus lainnya," katanya menggambar mitos yang berkembang.

Dia melanjutkan, setiap tahunnya, penunggu sungai Pemali juga diyakini warga meminta korban jiwa sebagai tumbal. Tapi, korban tersebut, bisanya bukan warga pribumi atau penduduk lokal, melainkan warga dari luar desa. "Percaya atau tidak yang meninggal tenggelam itu orang luar desa. Belum ada sejarahnya warga Dumeling yang berada di sebelah timur jalan menjadi korban. Konon, dahulu leluhur Dumeling berkelahi dan berhasil mengalahkan penunggu sungai. Mereka kemudian membuat kesepakatan untuk tidak mengambil korban warga lokal," tutur Zaki.

Begitu juga dengan insiden tenggelamnya 3 bocah tersebut, lanjut dia, menjadikan mitos masyarakat semakin menguat. Sebab, kebetulan yang meninggal itu bukan warga setempat. Selain itu, beberapa hari sebelumnya warga juga membicarakan isu akan ada 3 korban setelah Lebaran. "Mitos itu terjadi dan susah dicerna akal. kalau melihat kondisi sungai sebetulnya hanya selutut saja karena sedang musim kemarau. Anak saya saja yang kecil biasa bermain di situ tidak apa-apa. Tapi, nyatanya 3 anak malah tenggelam, menurut yang mengevakuasi karena terperosok, ada lubang gaib sedalam 7 meter. Wallahu a'lam sajalah saya," cetus dia.

KOSMOLOGI ALAM
Anggapan sungai memiliki sisi mistis yang dikeramatkan, ternyata tidak hanya berlaku bagi sungai Pemali Brebes. Nyaris semua sungai di nusantara, khususnya di pulau Jawa, menyimpan mitos angker yang melingkupinya. Sistem kepercayaan sebagian masyarakat ini, suadh berlangsung sejak ratusan silam.

Budayawan pantura yang juga penikmat sejarah, Wijanarto SPd menyebut mitos-mitos mistis yang berkembang di masyarakat Jawa sebagai ekspresi budaya yang lumrah sebagai bagian dari kosmologi alam. "Selain gunung dan laut, sungai juga menjadi sumber mitologi kuat bagi kalangan masyarakat, khususnya di Jawa. Bahkan ada ritua-ritual rutin sejenis sesembahan bagi sungai. Termasuk juga anggapan angker sungai Pemali Brebes," tuturnya, kemarin.

Sungai, kata Wijanarto, memilki kaitan sejarah yang kuat dengan budaya masyarakat nusantara jaman dahulu. Bahkan, setiap kerajaan besar selalu menjadikan sungai sebagai tumpuan utama ekspansi peradaban. Proses itu, kemudian berperan serta dalam membentuk hydrology culture (budaya hidrologi). "Sedang sungai Pemali, berasal pelacakan sejarah sementara berasal dari kata cai (air) Pamali (kasar, larangan-red) sebagaimana dikisahnya babad Pakuwon, pertempuran antara Ciung Wanara dan Arya Bangah," katanya.

Aroma mistis sungai Pemali, lanjutnya, juga muncul dalam legenda cerita rakyat Brebes, tempat ditemukannya kulit oleh seorang pemuda pelatik Bupati Brebes yang kemudian kini disebut dengan Jaka Poleng. Di samping itu, hydrologi culture yang berkembang itu kemudian juga membentuk pencitraan adanya tokoh-tokoh mahluk halus yang menjadi mitos sebagai penghuni sungai Pemali lainnya. "Benar atau tidaknya mitos angker tersebut belum pernah dibuktikan secara ilmiah. Namun di sisi lain, ekspresi budaya masyarakat juga susah untuk dihilangkan karena sudah turun temurun hingga menjadi khazanah tersendiri," paparnya.

Bagi kalangan agamawan, keberadaan mahluk gaib itu menjadi bagian rukun Iman. Selain manusia, di jagad ini juga ada mahluk lain yang kasat mata, yaitu malaikat dan Jin. Namun demikian, baik dan buruk serta keadaan ini atas kehendak Allah SWT sang pencipta mahluk. Maha Kuasa atas segala-galanya. Jika percaya pada selain Allah bisa jadi musyrik. Pun juga dengan mitos keramat Sungai Pemali, jangan sampai membuat terjerumus kepada kemusyrikan. Tuhan lah Sutradara utama diantara sutradara lain. (*,*)

0 comments: